BAB 8 MANUSIA DAN KEGELISAHAAN


Pengertian Kegelisahan

1. Pengertian Kegelisahan

Kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tenteram hatinya, selalu merasa kwatir tidak tenang, tidak sabar, cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang tidak tentram hati maupun perbuatannya, merasa kwatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan.

Kegelisahan hanya dapat diketahui dari gejala tingkah laku atau gerak gerik seseorang dalam situai tertentu. Kegelisahan merupakan salah satu ekspresi kecemasan. Karena itu dalam pengertian sehari-hari kegelisahan juga diartikan kecemasan, kekwatiran ataupun ketakutan. Masalh kecemasan atau kegelisahan berkaitan juga dengan masalah frustasi, yang secara definisi dapat disebutkan, bahwa seseorang mengalami frustasi karena apa yang diinginkan tidak tercapai.

B. Sebab-sebab timbulnya rasa takut :

1. Kurang beriman
Pengaruh iman terhadap jiwa dan kehidupan manusia, diantaranya berani, sebab bagi yang beriman tidak ada yang l ebih kuat dari kekuatan Allah dan tidak ada kebesaran yang melebihi kebesaran Allah.
2. Kurang atau tidak yakin akan kekuatn diri sendiri
Kurang yakin akan kekuatan diri sendiri menjadi seorang yang pengecut, ancaman yang dihadapinya terasa begitu besar sebaliknya diri merasa kecil.
3. Karena merasa bersalah atau berdosa
Karena perbuatan dosa akan mengguncangkan jiwa dan menimbulkan keraguan didalam hatinya, oleh sebab itu orang yang jiwanya labil tidak akan memiliki keyakinan dan keberanian.

 2. Kanker, Satu Kata yang Membuat Orang Terpuruk Lahir Batin

Jakarta, Dunia seakan runtuh, seakan tidak ada harapan sama sekali ketika seseorang mendapatkan diagnosis kanker. Pembawaan jadi lebih sensitif dan emosional, kadang sudah tidak bisa berpikir rasional. Sebegitu terpurukkah kalau kena kanker?

Martini Lim, seorang ibu muda baru berumur 38 tahun ketika pada tahun 2002 menemukan benjolan kecil di payudara kirinya. Ia ingat betul hari itu adalah hari Jumat dan ia hanya bisa tertegun lalu menghabiskan sepanjang akhir pekan dengan penuh kegalauan.

Tidak ada seorang pun yang ia beri tahu, kegelisahan tersebut bahkan ia sembunyikan dari suaminya sendiri. Atas inisiatifnya sendiri, Martini baru pergi ke Rumah Sakit pada hari Senin berikutnya dan di situ ia mendapat surat pengantar Ultrasonografi (USG).

“Melihat hasil USG, dokter bilang besoknya saya harus datang lagi bersama suami. Perasaan saya semakin tidak karuan karena pasti ada yang tidak beres,” kata Martini saat ditemui di tempat kerjanya, seperti ditulis detikHealth Rabu (27/6/2012).

Benar saja, dokter mengatakan bahwa benjolan sebesar biji salak di payudara kirinya adalah kanker stadium II-B dengan tingkat keganasan 60 persen. Tidak ada pilihan lain, Martini dirujuk ke dokter bedah untuk menjalani operasi untuk menyelamatkan nyawanya.

Alih-alih memikirkan pengobatan, Martini justru memikirkan omongan orang-orang tentang kanker. Tentang si ini yang habis operasi kanker lalu meninggal, tentang si itu yang kemoterapi dan juga meninggal, dan saat itu Martini merasa tidak punya harapan apapun juga.

Seminggu lamanya Martini mengurung diri, depresi memikirkan kemungkinan terburuk yang harus ia hadapi. Segala urusan pekerjaan, termasuk urusan administrasi perusahaan suaminya segera ia bereskan agar tidak terbebani tanggung jawab kalau terjadi sesuatu pada dirinya.

“Kalau tidak boleh dibilang penyesalan, anak saya yang saat itu masih kelas 2 SD sampai tidak naik kelas. Gara-gara menutup diri, saya justru menelantarkan banyak hal,” kenang Martini tentang anak keduanya yang harus ikut menanggung dampak dari kanker yang dideritanya.

Pada akhirnya, Martini memang harus merelakan payudara kirinya diangkat oleh dokter di Singapura. Setelah menjalani 6 kali kemoterapi, ia bisa melewati masa pemulihan dan sangat bersyukur diberi kesempatan untuk hidup hingga usia 48 tahun sekarang ini.

Perasaan terpuruk juga dialami Albert Charles Sompie, mantan kapten tim nasional softball Indonesia era 1980-1990. Laki-laki berkumis yang akrab dipanggil Berthie Sompie ini juga melalui fase denial atau pengingkaran ketika pada tahun 2002 didiagnosis kanker paru dan usus sekaligus.

Bahkan bukan cuma dirinya yang sulit menerima kenyataan itu, tetapi juga kakak iparnya yang kini menjabat sebagai Ketua Konsil Kedokteran Indonesia (KKI), Prof Dr Menaldi Rasmin, SpP(K). Saking tidak percayanya, Prof Menaldi sampai tidak tega mengatakan penyakit Berthie.

“Waktu saya tanyakan saya sakit apa, kakak saya malah balik tanya, ‘Feeling kamu apa?’ saya tanyakan apakah kanker paru, baru dia mengiyakan. Nggak tega keluar dari mulutnya sendiri,” tutur Berthie yang sebenarnya sudah yakin kena kanker karena pada saat itu dia adalah perokok berat yang sanggup menghisap 60 batang/hari.

Laki-laki yang kini dikenal sebagai aktivis anti rokok tersebut sangat terpukul karena karir dan hobinya sebagai pemain softball profesional terancam hancur. Bahkan lebih dari itu, ia tidak yakin bisa selamat karena pada saat itu yang didengarnya tentang kanker selalu berujung pada kematian.

Dalam kondisi pikiran yang serba kacau, Berthie sempat balik badan menolak tawaran operasi dan kemoterapi selama hampir setahun lamanya. Ia lebih memilih pengobatan alternatif dan jadi sangat sensitif ketika dilarang oleh istri dan kakak iparnya.

“Wong yang sakit saya kok, yang merasakan penderitaan ya saya sendiri. Begitulah, orang jadi lebih sensitif dalam kondisi seperti itu. Dan pada titik itu saya benar-benar takut, saya balik badan karena takut operasi,” kata Berthie.

Keterpurukan secara mental akhirnya menjalar ke fisik. Gejala kanker paru stadium III-B yang sebenarnya tidak ia rasakan sama sekali sebelumnya, jadi terasa tidak nyaman justru karena Berthie selalu kepikiran ada penyakit di dalam tubuhnya.

“Ya secara psikis kalau tahu ada penyakit, tidur begini jadi tidak enak, begitu tidak enak. Padahal tadinya tidak terasa apa-apa,” kata Berthie yang mengaku masih nekat bertanding softball beberapa hari menjelang operasi, bahkan masih sempat menghisap rokok terakhir sebagai salam perpisahan.

SUMBER : http://health.detik.com/read/2012/06/27/105551/1951864/775/kanker-satu-kata-yang-membuat-orang-terpuruk-lahir-batin

3. Analisa

Dalam artikel bab 8 ini saya menjelaskan manusia dan kegelisahan, kata “kegelisahan” berasal dari kata “gelisah” yang artinya takut, cemas dalam diri kita. Kecemasan dalam artikle ini merupakan kecemasan yang nyata atau obyektif karena faktor lingkungan yang sudah pernah terjadi. Artikel ini memberikan contoh kegelisahan seseorang yang mmepunyai penyakit yang cukup mengerikan dan sangat menakutkan , Semua orang mempunyai kecemasan dan ketakutannya tapi ketakutan itu hanya mengganggu kita untuk melakukan aktifitas kita , hinga ada yang depresi akibat memikirkan hal yang membuat diri kita takut. Kegelisahan yang dialami di artikel ini adalah seseorang yang mempunyai penyakit kronis yang berujung kematian, semua orang takut mati tapi kita tidak bisa menghindari apabila waktu ajal menjemput kita. Dan semua orang pasti akan mengalaminya , hanya berbeda waktu saja .

Seseorang itu bernama Martini Lim, awalnya dia sangat gelisah dan takut melihat ada benjolan di payudara kirinya akibatnya dia gelisah sehingga tidak ada orang yang dia beritahu tetang benjolan itu, setelah menjalani pemerikasan di rumah sakit akhirnya dokter pun memberi tahu kalo dia terkena kanker stadium II-B dengan tingkat keganasan 60 persen. Dia semakin gelisah dan takut akibatnya dia mengurung diri dan semua katifitasnya terganggu , dia pun tidak mau kalo sampai harus dioperasi.

Tapi Karena memikirkan anak yang masih duduk di sekolah SD pun dia mau untuk di operasi di singapura, sehingga penyakit yang diderita nya bisa dia atasi dengan operasi dengan mengorbankan payudaranya , apabila dia tidak mau mengorbankannya maka dia tidak akan bisa diselamatkan karena kanker yang dia deritanya pun sudah dalam tingkat keganansan 60% .selain itu dia juga masih mempunyai anak yang masih kecil, suami dan anaknya bisa bersama hidup dengan nya hingga dia berumur 48 tahun. walupun dia meninggalkan dengan usia yang masih muda tapi setidaknya dia masih bisa merasakan kehidupan hinga anaknya dewasa.

Apabila kita mau berpikir positif tentang sesuatu yang kita alami kita pasti bisa melawan dan mengatasi rasa takut dan cemas yang kita alami. kita sebagai manusia harus berfikir apa yang terjadi pada diri kita itu adalah cobaan dari Allah SWT. Setiap orang yang bisa mengatasi dan bersabar atas cobaan yang terjadi akan mendapatkan yang sesuatu yang indah dalam hidup kita , kalo kita terus-terusan merasa takut dan cemas kita hanya menjadi orang yang penakut. Dan tidak akan berhasil dalam melakukan segala hal karena kita tidak bisa berfikir positif , kita selalu takut. Jadi kita harus bersifat optimis dan bersabar agar terhindar dari rasa kegelisahan dan ketakutkan .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: