BAB 5 MANUSIA DAN KEADILAN


MENDEFINISIKAN DAN MENJELASKAN TENTANG KEADILAN

1, Pengertian Keadilan
Keadilan menurut Aristoteles adalah kelayakan dalam tindakan manusia. Kelayakan diartikan sebagai titik tengah antara kedua ujung ekstrem yang terlalu banyak dan terlalu sedikit. Kedua ujung ekstrem ini menyangkut dua orang atau benda. Bila kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dalam ukuran yang telah ditetapkan, maka masing-masing orang harus memperoleh benda atau hasil yang sama, kalau tidak sama, maka masing – masing orang akan menerima bagian yang tidak sama, sedangkan pelangggaran terjadap proporsi tersebut disebut tidak adil.
Keadilan oleh Plato diproyeksikan pada diri manusia sehingga yang dikatakan adil adalah orang yang mengendalikan diri dan perasaannya dikendalikan oleh akal. Socrates memproyeksikan keadilan pada pemerintahan. Menurut Socrates, keadilan akan tercipta bilamana warga Negara sudah merasakan bahwa pemerintah sudah melakukan tugasnya dengan baik. Mengapa diproyeksikan kepada pemerintah ? sebab pemerintah adalah pimpinan pokok yang menentukan dinamika masyarakat. Kong Hu Cu berpendapat bahwa keadilan terjadi apabila anak sebagai anak, bila ayah sebagai ayah, bila raja sebagai raja, masing-masing telah melaksanakan kewajibannya. Pendapat ini terbatas pada nilai-nilai tertentu yang sudah diyakini atau disepakati.
Menurut pendapat yang lebih umum dikatakan bahwa keadilan itu adalah pengakuan dan pelakuan yang seimbang antara hak-hak dan kewajiban. Keadilan terletak pada keharmonisan menuntut hak dan menjalankan kewajiban. Atau dengan kata lain, keadilan adalah keadaan bila setiap orang memperoleh apa yang menjadi hak nya dan setiap orang memperoleh bagian yang sama dari kekayaan bersama.

II. MACAM-MACAM KEADILAN
a. KEADILAN LEGAL ATAU KEADILAN MORAL
Plato berpendapat bahwa keadilan dan hukum merupakan substansi rohani umum dari masyarakat yang membuat dan menjadi kesatuannya. Dalam masyarakat yang adil setiap orang menjalankan pekerjaan menurut sifat dasarnya paling cocok baginya ( the man behind the gun ). Pendapat Plato itu disebut keadilan moral, sedangkan oleh yang lainnya disebut keadilan legal.
Keadilan timbul karena penyatuan dan penyesuaian untuk member tempat yang selaras kepada bagian-bagian yang membentuk suatu masyarakat. Keadilan terwujud dalam masyarakat bilamana setiap anggota masyarakat melakukan fungsinya secara baik.
Ketidakadilan terjadi apabila ada campur tangan terhadap pihak lain yang melaksanakan tugas-tugas yang selaras sebab hal itu akan menciptakan pertentangan dan ketidak keserasian.
b. KEADILAN DISTRIBUTIF
Aristotele berpendapat bahwa keadilan akan terlaksana bilamana hal-hal yang sama diperlakukan secara sama dan hal-hal yang tidak sama diperlakukan tidak sama (justice is done when equels are treated equally).
c. KEADILAN KOMUTATIF
Keadilan ini bertujuan untuk memelihara ketertiban masyarakat dan kesejahteraan umum.Bagi Aristoteles pengertian keadilan ini merupakan asas pertalian dan ketertiban dalam masyarakat. Semua tindakan yang bercorak ujung ekstrem menjadikan ketidakadilan dan akan merusak atau bahkan menghancurkan pertalian dalam masyarakat.
d. KEJUJURAN
Kejujuran atau jujur artinya apa-apa yang dikatakan seseorang sesuai dengan hati nuraninya, apa yang dikatakan sesuai dengan kenyataan yang ada. Sedang kenyataan yang ada itu adalah kenyataan yang benar-benar ada. Jujur juga berarti seseorang bersih hatinya dari perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh agama dan hukum. Untuk itu dituntut satu kata dan perbuatan, yang berarti bahwa apa yang dikatakan harus sama dengan perbuatannya. Karena itu jujur berarti juga menepati janji atau kesanggupan yang terlampir melalui kata-kata ataupun yang masih terkandung dalam hati nuraninya yang berupa kehendak, harapan dan niat.
Sikap jujur itu perlu di pelajari oleh setiap orang, sebab kejujuran mewujudkan keadilan, sedang keadilan menuntut kemuliaan abadi, jujur memberikan keberanian dan ketentraman hati, serta menyucikan lagi pula membuat luhurnya budi pekerti.
Pada hakekatnya jujur atau kejujuran di landasi oleh kesadaran moral yang tinggi kesadaran pengakuan akan adanya sama hak dan kewajiban, serta rasa takut terhadap kesalahan atau dosa.
Adapun kesadaran moral adalah kesadaran tentang diri kita sendiri karena kita melihat diri kita sendiri berhadapan dengan hal yang baik dan buruk.
Kejujuran besangkut erat dengan masalah hati nurani. Menurut M.Alamsyah dalam bukunya budi nurani dan filsafat berfikir, yang disebut nurani adalah sebuah wadah yang ada dalam perasaan manusia. Wadah ini menyimpan suatu getaran kejujuran, ketulusan dalam meneropong kebenaran local maupan kebenaran illahi (M.Alamsyah,1986 :83). Nurani yang di perkembangkan dapat jadi budi nurani yang merupakan wadah yang menyimpan keyakinan. Kejujuran ataupun ketulusan dapat di tingkatkan menjadi sebuah keyakinan atas diri keyakinannya maka seseorang di ketahui kepribadianya.
Dan hati nurani bertindak sesuai dengan norma-norma kebenaran akan menjadikan manusianya memiliki kejujuran, ia akan menjadi manusia jujur. Sebaliknya orang yang secara terus-menerus berfikir atau bertindak bertentangan dengan hati nuraninya akan selalu mengalami konfik batin, ia akan selalu mengalami ketegangan, dan sifatnya kepribadiannya yang semestinya tunggal menjadi pecah.
Untuk mempertahankan kejujuran, berbagai cara dan sikap yang perlu di pupuk. Namun demi sopan santun dan pendidikan, orang di perbolehkan berkata tidak jujur apabila sampai bata-batas yang di tentukan.

2. CONTOH ARTIKEL

Kasus ‘Keadilan’ Sandal Jepit

AAL, bocah yang divonis bersalah terkait kasus pencurian sandal menceritakan awal mula kasus yang menjeratnya itu. Menurutnya, kasus berawal pada November 2010 saat dia dan teman-temannya menemukan sandal di luar pagar kos Briptu Rusdi Harahap.

AAL menceritakan kisah tersebut saat berkunjung ke kantor Komnas Perlindungan Anak, Jakarta, Rabu 11 Januari 2012.

“Saya menemukan sandal pas pulang sekolah. Sekitar jam 12. Saya dan teman saya pulang lewat kost milik Briptu Rusdi Harahap. Saya lihat ada sandal di pinggir jalan di luar pagar. Saya lihat, saya ambil, dan saya bawa pulang. Habis saya bawa pulang itu sudah tidak ada apa-apa,” tutur AAL.

Kemudian pada Mei 2011, lanjut AAL, Briptu Rusdi memanggil AAL yang saat itu sedang melintas di depan kosannya bersama dua temannya. “Saat itu saya lewat kos itu karena mau ke rumah teman dekat SMU 9. Saat lewat, saya dipanggil sama Rusdi Harahap. Kemudian dia bilang ‘heh kamu itu sudah ambil sandal di sini’,” jelasnya.

Menurutnya, saat itu, dia membantah tuduhan tersebut. “Saya bilang bukan pak. Saya tidak tahu juga. Terus dia bilang ‘saya sudah 3 kali kehilangan sandal di sini’,” tuturnya.

Saat itu, lanjut dia, Briptu Rusdi semakin jengkel. Karena jengkel, AAL mengaku dipukul oleh Briptu Rusdi. Satu temannya pun juga mendapat bogem mentah dari oknum polisi dari Brimob Polda Sulawesi Tengah itu.

“Setelah tanya-tanya dan mungkin dia sudah jengkel, dia pukul saya dan dia tanya-tanya terus. Teman saya juga satu dipukul, dan akhirnya dia mengaku dan bilang Anjar memang pernah menemukan sandal di situ, tapi di luar pagar dan itu sudah tahun lalu, bukan Eiger juga tapi Ando,” ujarnya.

Setelah peristiwa tersebut, AAL mengaku dipanggil oleh polisi dan disuruh mengaku. “Terus saya bilang memang saya menemukan sandal di pinggir jalan situ, bukan Eiger tapi Ando. Terus polisi itu tanya di mana sandal itu, dan saya bilang di rumah. Kemudian disuruh ambil sandal itu ke rumah,” ujarnya.

Menurut AAL, saat itu dia langsung pulang ke rumah untuk mengambil sandal tersebut. “Saya ambil dan saya bawa sandal itu ke kantor polisi dengan orangtua,” ujarnya.

AAL mengaku dia dan temannya juga sempat disekap di kos Briptu Rusdi. Saat disekap, AAL mengaku dianiaya. “Dipukul dan dianiaya dipaksa mengaku. Saya ditinju perutnya, ditempeleng, dan ditendang di belakang dan dipukul dengan kayu. Saya dan 2 orang teman saya dipukul semua, tapi saya yang paling banyak. Dari jam 8 malam sampai jam 22.30 lewat sampai dipanggil orangtua,” tuturnya.

Berapa orang yang menganiaya? “Dua orang. Briptu Rusdi dan Briptu Simson,” ujarnya.

Apa langsung divisum? “Habis buat BAP baru divisum. Divisumnya pas sudah di Polda, dan dibilang nanti akan diproses pemukulan itu,” katanya.

AAL pun tidak yakin sandal yang diambilnya milik Briptu Rusdi atau bukan. “Saya tidak tahu itu punya siapa karena sandal itu jauh dari rumahnya dan di luar pagar,” tuturnya.

Meski demikian, hakim sudah mengetuk palu. Hakim menjatuhkan vonis AAL bersalah dalam kasus pencurian sandal. Meski demikian, para hakim tidak mengirim AAL ke penjara, tapi memulangkan ke rumah orang tuanya. Ia juga didenda Rp2.000 sebagai biaya perkara.

 3. PENDAPAT

Kali ini saya akan memberi pendapat tentang tulisan saya pada BAB 5 MANUSIA DAN KEADILAN. Sebelumnya saya akan memberi pendapat apai itu KEADILAN ? Keadilan itu merupakan salah satu tindakan kejujuran kita, berbuat kepada seseorang agar mendapatkan hidup yang layak. Keadilan didunia ini sudah sangat jarang terlihat, keadilan itu ada apabila ada kekuasaan jadi sekarang siapa yang mau mendapatkan keadilan mereka harus mempunyai kekuasaan.  Sepertinya kasus kasus yang beterbangan di negara ini benar-benar beraneka ragam dengan keanehannya masing-masing. Seperti contohnya kasus yang baru saja terjadi di daerah Palu, Sulawesi Tengah. Nasib sial menimpa seorang anak kecil berumur 4 bersama temannya umur 15 tahun yang dituduh mencuri sendal jepit harus berhadapan dengan meja hijau tanpa di dampingi pengacara karena tidak adanya kemampuan finansial untuk membayar jasa pengacara Padahal belum tentu dia yang mencuri nya , tapi bandingkan dengan para koruptor yang mencuri uang rakyat hingga bermilyar milyar bahkan trilyunan bebas berkeliaran, makelar makelar kasus bisa bebas berkeliaran dan hidup mewah tanpa penyelesaian yang jelas karena mereka mempunyai kekuasaan sehingga mereka bisa seperti ini .

Mungkin masuknya hukuman tersebut kepada mereka ingin mendidik, namun yang terjadi adalah hak anak sudah dirampas. Tapi, apakah proses peradilan yang seadil-adilnya bagi koruptor dan para mafia peradilan tidak bisa ditegakkan seperti petugas hukum menindak tegas seperti kasus AAL ini ? Masyarakat bisa menilai sendiri seperti apa hukum di Negara kita ini. Keadilan ini selalu melibatkan kambing hitam. Semua manusia tugasnya berlaku adil terhadap siapa pun, seimbang dan tidak membedakan satu sama lainnya.

Hak dan Kewajiban pun harus diterima adil pada setiap manusia, jangan hanya karena mereka memiliki kekuasaan mereka bisa bertindak bebas seperti yang mereka inginkan itu sangat tidak adil. Di negara Indonesia ini masih banyak yang belum bisa berlaku adil, masih banyak yang terpengaruh oleh kekuasaan, kenikmatan dan sebagainya sehingga melupakan mana yang benar dan mana yang patut di salahkan.

Cara untuk bersikap adil menurut saya harus di mulai dari diri sendiri dulu bisa membedakan antara yang benar dan yang salah, kemudian jika ada sebuah masalah maka sebaiknya di lihat secara obyektif jangan subyektif.

1 Komentar

  1. dasar polisi tak beradap….
    yg kayak gini bisa merusak semua citra polisi dimasyarakat..
    tak usah disayang lagi ni polisi,cabutkan aja semua yg ada padanya, karna dia tak pantas menjadi polisi….
    lebihbaik kehilangan 1 polisi daripada kehancuran citra polisi dimata masyarat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: